Lebih Mendengar

“Aku merasa ada yang salah dengannya. Entahlah, masalah pendengaran mungkin. Sepertinya dia terlalu banyak berbicara dan sedikit mendengar.”

Begitulah seorang teman berbicara padaku. Waktu itu ia baru saja bertemu dan berbincang dengan seorang teman kami. Aku segera memotong pembicaraannya dengan mengatakan

“Aku rasa, tidak semua orang, dan hanya orang-orang dengan kemampuan khusus yang mampu dengan sabar mendengarkan orang lain. Ada ego dan kesombongan atas rasa lebih tahu yang ditekan habis-habisan untuk betah mendengarkan orang lain.”

Teman yang baru saja bercerita itu mengamini perkataanku. Menurutnya, semakin tinggi pengetahuan dan pengalaman seseorang, maka semakin besar juga ego dan kesombongan yang harus ditekannya. Respon-respon terhadap apa yang didengar seseorang tidak selayaknya disampaikan dengan rasa sombong yang berujung pada justifikasi. Hal ini tentu bijak sekali dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak sependapat dengannya.

- teruskan membaca -

Ngayogjazz 2012

Awalnya saya mengira musik Jazz di Indonesia adalah musik elitis, yang konsernya hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu dengan biaya yang tidak sedikit. Musik asing yang tidak bisa diapresiasi dengan luwes oleh semua kalangan masyarakat, musik yang tidak membumi di Indonesia. Hingga akhirnya pada tahun 2011 saya berkenalan dengan Ngayogjazz, sebuah acara yang digagas oleh Djaduk Ferianto sebagai jawaban atas kegelisannya terhadap citra musik Jazz yang elitis. - teruskan membaca -